Menulis Itu Mudah
Resume ke : 10
Gelombang : 29
Tanggal : 17 Juli 2023
Tema : Menulis Itu Mudah
Narasumber : Bapak Prof. Dr. Ngainun
Naim
Moderator : Yandri Novita Sari, S.Pd
Resume ke 10 dengan nara sumber yang
luar biasa. Seorang professor muda bidang filsafat kelahiran tahun 1975 yang
telah menghasilkan 36 jurnal ilmiah, lebih 20 buku dan sekitar 32 chapter buku.
Kita kadang ragu bahwa menulis itu
mudah. Prof. Ngainum kemudian membagikan link blog pribadinya www.spirit-literasi.id dengan topic
perjalanan dan perjuangan mencari sarapan di Tana Toraja yang mengisahkan
perjalanan membimbing mahasiswa ke Toraja. Tulisan tersebut isinya kisah
perjalanan sehari-hari.
Menulis itu mudah bagi yang sudah
terbiasa dan sulit bagi yang belum terbiasa. Agar mudah kuncinya:
1.
Tulislah
apa yang diketahui. Jangan
menulis apa yang tidak diketahui. Bisa pengalaman hidup sehari-hari.
Contohnya dalam blog Prof Ngainum menulis “Semakin Anda memahami orang lain,
semakin peka perasaan Anda terhadap orang tersebut. Semakin kurang pemahaman
Anda, kemungkinan Anda memperlakukan orang lain sebagai benda buat dihakimi
dihukum dan dieksploitasi.” Pada tulisan lain Prof Ngainum membuka jejak
kenangan yang terkait perjalanan hidup dan masa kecil di sawah dengan senjanya.
Jika kita seorang guru, tulislah pengalaman seorang guru yang sesungguhnya sangat kaya.
2.
Yakinkan
dalam diri bahwa menulis itu mudah. Jangan berpikir
menulis itu sulit. Bedakan antara PIKIRAN dan PRAKTIK dalam menulis. PIKIRAN itu
kunci yang menentukan tindakan. Bila berpikir menulis itu sulit, akan mudah
patah arang, cepat berhenti. Jika berpikir mudah, maka akan betul-betul mudah.
Hambatan akan bermetamorfosis menjadi tantangan.
3.
Menulislah
sedikit demi sedikit. Menulis tidak harus banyak. Kuncinya
konsisten. Selalu menanamkan menulis setiap ada kesempatan. Prof membagikan
tips melalui blog dengan judul Hernowo, spirit literasi dan teknik ngemil.
Buku yang memberi semangat menulis hingga saat ini adalah Mengikat
makna karya Hernowo. Ia menjadi role model apa yang ditulisnya. Tidak
hanya berteori tetapi mempraktikannya. Ia menulis lebih dari 30 judul buku.
Teknik menulisnya adalah ngemil yaitu menulis sedikit demi sedikit layaknya
seorang ngemil makanan sedikit demi sedikit. Dapat dilakukan di mana dan kapan
saja menyesuaikan kondisi dan kenyamanan masing-masing. Bisa ditulis tangan.
4.
Tulis
apa yang Anda pikir. Jangan pikir apa yang Anda tulis.
Pokoknya menulis saja. Menulis itu dunia aksi bukan dunia teori.
5.
Jangan
menulis sambil dibaca atau diedit. Focus mengeluarkan
apa yang ada dalam pikiran. Jika menulis malam maka editnya besok. Bila
dilakukan bersamaan tulisan akan sulit selesai. Ingatlah slogan 3M AA Gym.
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai sekarang juga. Menulis itu
mudah ketika DIPRAKTIKKAN bukan hanya DIDISKUSIKAN.
Pertanyaan
- Gazella, Jakarta. Pertama, Tiga blog yang dimiliki
yang pertama sebagai awal belajar, yang kedua web mandiri dan ketiga kompasiana.
Setiap minggu minimal satu artikel yang diunggah. Kedua, Semua orang mengalami keraguan akan kualitas tulisan.
Apakah disukai, apakah akan dibaca, dll. Setiap tulisan memiliki takdir
masing-masing. Tugas kita menulis sesuai kemampuan.
- Aripa, SMAN2 Muaro Jambi.
Prof Ngainum memulai menulis sejak SMP karena melihat guru Bahasa Inggris
yang saat itu menjadi penulis. Motivasi awal meniru, berubah menjadi
financial, saat ini menulis sebagai berkah dan menjadi kegemaran.
- Darti Isyanti, Jakarta
Utara. Ingin bercita-cita memiliki buku solo itu wajar. Agar tetap semangat
dan terus mencoba.
- Rahmi, Bogor. Pertama, Menulis jangan lupa
waktu, harus komitmen tidak terlalu lama. Tubuh kita memiliki
keterbatasan. Kedua, Mulai dari
diri sendiri maksudnya membangun kesadaran diri untuk menulis bukan
dipaksa oleh orang lain.
- Ahmad Soleh, Jakarta. Pertama, menjeda hasil tulisan
sebelum diedit bisa beberapa jam, bisa beberapa hari. Tidak sama antara
tiap orang. Tidak perlu terburu-buru. Bacalah beberapa kali tulisan yang
telah selesai. Kedua, Menulis
itu menyenangkan, Prof. Ngainum tidak membayangkan ia yang berasal dari
desa, nyaris tidak tamat S1 karena biaya. Sangat bersyukur memiliki
kegemaran menulis yang bisa mengantarkannya
mencapai guru besar.
- Roudatul Jannah, kalsel.
Kunci agar menulis artikel ilmiah tidak mengalami stuck di tempat adalah
sabar dan tekun.
- Ahmad, Ambon. Pertama, alasan ingin menjadi
penulis karena punya penulis idola Hilman Hariwijaya “Lupus”. Tapi
sekarang menjadi diri sendiri dengan keberkahan menulis. Kedua, membagi waktu dengan cara
mengalir, sempatkan, satu atau dua paragraph, tapi tiap hari harus
menulis. Ketiga, kita ini hidup
di dunia, pengalaman buruk pasti ada, tapi focus pada yang baik-baik saja.
- Abdul Fatah, Surabaya.
Menulis tidak harus tuntas seketika, kondisional dan mengalir saja. Saat
macet, gunakan waktu untuk bersantai, membaca, jalan-jalan. Tengok kembali
tulisan, begitu terus hingga ad aide untuk melanjutkan.
- Samsul Huda, Tapin kalsel.
Untuk mengatur waktu perlu ditata dengan baik. Malam membuat jadwal untuk
kegiatan besok. Selain itu memanfaatkan waktu di sela-sela tugas dengan
membaca dan menulis.
- Amin Kurniawan, buku digital
dapat dikutip pada alamat
https://scholar.google.co.id/citations?user=SbP10fkAAAJ&hl=id&oi=ao
- Zakiah, Menteng. Pertama, Untuk mengajak orang lain
menulis, dimulai dari diri sendiri. Kedua,
bagi yang kesulitan dengan kaidah seperti sering menyingkat dll, jangan
terbebani, nikmati, jalani dan hayati. Lama atau tidak yang terpenting
adalah menulis.
- Intan, Kediri. Pertama, Kendala biaya jangan
menjadi penghalang. Teruslah menulis. Jika tulisan kita baik, penerbit
akan mencari kita.teruslah berproses. Kedua,
Jangan sampai berhenti dan putus asa. Itu pantangan.
- Mayarina SMPN1 Kisaran.
Hasil tulisan seperti membuat resume enak dibaca dan menyenangkan dengan
cara berproses yang panjang dan mengalir. Semua tidak dicapai dengan
instan, teruslah menulis dan tulisan kita akan indah pada waktunya. Prof
juga mengalami hal yang sama.
Closing
statement dari nara sumber
“Menulis
itu proses yang terus menerus”
tambahan
moderator
“Satu
persen inspirasi dan 99 persen kerja keras”
Thomas
Alfa Edison
Terima
kasih kepada nara sumber Prof. Ngainun Naim dan moderator atas bimbingan dan
materinya. Semoga sehat dan berkah ilmunya. Terima kasih.
Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang. Sudahkah Anda memulai?
ReplyDeleteTetap semangat
ReplyDelete