Kiat Menulis Fiksi
Resume ke : 9
Gelombang : 29
Tanggal : 14 Juli 2023
Tema : Kiat Menulis Fksi
Narasumber : Bapak Sudomo, S.Pt
Moderator : Arofiah Afifi, S.Pd
Malam ini akhirnya saya bisa memulai
kembali menyusun resume ke sembilan dari target 30 resume, setelah beberapa
resume sebelumnya tidak sempat untuk dikerjakan. Mata ini sudah mulai mengeluh dan
mengabur bila terlalu lama memandang cahaya Laptop maupun HP.
Materi kali ini disampaikan oleh Bapak
Sudomo dari Lombok. Pasti menarik karena beliau dengan latar belakang berbeda bisa
menjadi penulis handal sekaligus pendidik. Beberapa bulan sebelumnya, saya
sempat berkomunikasi melalui WA kepada beliau untuk meminta bantuan mencarikan informasi
sekolah tujuan apabila kami ingin berkunjung ke sana. Tapi semua itu baru
rencana. Tuhan yang menentukan.
Materi dimulai dengan alur belajar
Merdeka saat mengikuti pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 Kab. Lombok Barat,
yang bisa diterapkan juga pada proses pembelajaran di kelas nantinya.
1.
Mulai
dari diri. Menjawab dalam hati atas beberapa pertanyaan
yang ditulis pada draft postingan.
a.
Seberapa sering menulis cerita fiksi? Kadang-kadang.
Paling dalam setahun bisa menulis satu buku fiksi, berupa cerita anak.
b. Mengapa
tertarik menulis fiksi? Bisa memperoleh hikmah dibalik cerita yang
ditulis, berbagi kisah nyata yang menarik dalam bentuk fiksi sehingga lebih netral,
sebagai contoh dan motivasi kepada siswa.
c. Apa
yang dipahami tentang menulis fiksi? Fiksi merupakan cerita rekaan atau khayalan
berdasarkan imajinasi penulis.
d.
Bagaimana langkah menulis puisi dengan
baik? Menemukan
ide, membuat Outline, Membuat karakter tiap tokoh, menyusun alur, riset sesuai
alur cerita, membumbui dengan kisah yang menarik.
2.
Eksplorasi
konsep. Mempelajari materi yang sudah disiapkan dan
diperdalam dalam sesi Tanya jawab.
Materi
ebook dan
Pertama.
Syarat menulis cerita fiksi.
1)
Komitmen dan niat yang kuat
2)
Kemauan dan kemampuan meriset agar
cerita logis
3)
Banyak membaca cerita fiksi
4)
Sesuai KBBI dan PUEBI
5)
Memahami dasar-dasar menulis fiksi
6)
Menjaga komitmen menulis cerita fiksi
Kedua.
Membuat premis atau ringkasan/synopsis cerita yang mengandung tokoh, karakter,
rintangan, dan resolusi hanya dalam satu kalimat.
Contoh:
Seorang anak laki-laki yang berjuang membalaskan dendam kematian orangtuanya
dengan melawan penyihir jahat. (Harry Potter).
Seorang
gadis SMA yang membongkar kasus pembunuhan ayah dan ibunya dengan berpura-pura
menjadi preman. Perlu penajaman bagian tantangan
Ketiga.
Proses kreatif menulis. Setelah menemukan tema nara sumber memilih ending,
setelah itu baru menentukan genre yang sesuai, barulah membuat outline berupa
tema, alur/plot, penokohan, setting/latar dan sudut pandang.
Terakhir.
Mengembangkan outline menjadi tulisan utuh dengan prinsip selesaikan apa yang telah dimulai dan Jangan
menulis sambil mengedit.
Selanjutnya
swasunting terkait logika cerita,
ejaan dan tata bahasa, serta mencari teman sebagai reviewer.
3.
Ruang
Kolaborasi. Berkolaborasi melanjutkan cerita.
Brak!
Terdengar suara daun pintu dibanting. Kepalaku memutar
menuju sumber suara. Kosong. Dalam remang, mataku menangkap sebuah bayang
hitam. Sepertinya aku mengenalinya.
Ya, ternyata
betul. Bayangan itu pernah terlihat di ruang berbeda seminggu yang lalu. Hanaya
saja beberapa detik kemdian ia menghilang. Entah dari mana ia datang, dan ke
mana ia pergi belum bisa kutahu dan mengerti.
Apakah itu hanya
ilusi atau realita bahwa ada seseorang yang selalu mengawasiku di saat ku
mengalami kemarahan. Mungkinkah ia adalah penggambaran diri atau hanya luapan
emosiku yang tak terkendali.
Kutarik
napasku sedalam dan sepanjang yang kumampu. Bintik terang di mataku berputar
semakin lambat dan perlahan sirna. Kubuka kembali mataku mencari bayangan itu. Mungkin
saja ia datang kembali.
Ternyata benar.
Masih ada sosok yang berdiri memandang ke arahku. Di tanganya terlihat benda
aneh mengilap. Jantungku berdegup kencang, hatiku cemas tiada terkira. Pikiranku
masih sadar. Kucari sesuatu di dekatku yang bisa kugunakan bertahan atau
menyerang.
Perlahan kugeser
punggung dan kujinijit kaki agar tetap bisa mengawasinya.
Bruk! Sesuatu jatuh
tepat di hadapanku. Secepat kilat kugenggang benda itu. Kusentuh seluruh
permukaannya. Mantap, sebuah linggis panjang. Syukurlah bukan jatuh di kepalaku.
Bersambung ....
4.
Demontrasi
Kontekstual. Sebagai bentuk pemahaman
mengembangkan menjadi sebuah premis.
5.
Elaborasi
pemahaman. Mencari referansi terkait materi menulis fiksi,
dan membaca karya fiksi penulis lain.
6.
Koneksi
antarmateri. Membuat rangkuman singkat terkait
menulis cerita fiksi dan materi yang telah dipelajari bersama.
7.
Aksi
nyata. Membuat resume KBMN pertemuan 9 dengan gaya
fiksi.
1.
Rosyida. Solusi bagi penulis yang
berlatar belakang guru ataupun ustadz yang ingin membuat fiksi yang
menggambarkan kehidupan wanita malam dengan detail dan vulgar. Intinya tidak ada larangan, hanya perlu melihat kepantasan
mematuhi rambu-rambu dan etika.
2.
Intan Purnama, Kediri. Mempertahankan
semangat menulis dan menghindari writer block, serta cara membuat outline agar
cerita bisa terus berlanjut adalah dengan menguatkan niat untuk menyelesaikan. Adapun outline dapat dibuat per bab dengan
memastikan rangkaian kejadian yang dialami tokoh dan ada perkembangan karakter
tokoh. Platform menyesuaikan pilihan dan perlu mencoba menawarkan pada penerbit
mayor.
3.
H.R. Utami, Semarang. Membuat judul
sebaiknya setelah tulisan selesai, karena judul merujuk kepada isi tulisan.
4.
Ahmad, Ambon. Judul yang menarik
adalah yang unik, keterbacaan yang tinggi dan menggoda. Kendala menulis
biasanya adalah komitmen yang turun dan naik.
5.
Ovi. Latar belakang menyukasi fiksi
sejak SD, kosa kata yang banyak diperoleh melalui membaca buku, buku yang
menantang adalah karya duet.
6.
Eli, Lebak. Mendapatkan dan menuangkan
imajinasi dengan cara dilatih. Membaca, menonton, mendengar cerita sahabat,
menyepi dapat membantu mengembangkan imajinasi.
7.
Asma Asam-Asam Kalsel. Membangun
kepercayaan diri menulis cerita itu mudah, dengan mulai menulis cerita,
kemudian selesaikan. Terbuka dengan kritik yang membangun. Tidak ada tulisan fiksi jelek. Tulisan yang jelek adalah yang ditulis
tetapi tidak diselesaikan.
8.
Abidah NTT. POV orang ketiga jamak
melalui detail narasi atau ekspresi tokoh. Show
don’t tell prinsipnya. Biarkan sejalan dengan cerita.
9.
Dwi Astuti. Pengalaman dibuat menjadi
fiksi, setting menyesuaikan, bila memicu masalah difiksikan, tokoh juga
demikian.
10. Sarjana,
Bali. Konflik bisa dengan diri sendiri, cerpen selalu membutuhkan konflik.
Tanpa konflik akan menghilangkan unsur pembangun cerita yaitu resolusi.
11. Tertarik
menjadi guru dan lihai menulis di media. Materi ditutup karena terkendala
jaringan. Peserta melanjutkan tugasnya pada grup fiksi.
Terima
kasih kepada nara sumber MasMo dan moderator atas bimbingan dan materinya. Mohon
maaf karena pagi ini baru bisa mengirim resumenya.
Comments
Post a Comment